Ditulis oleh :
Selepas melaksanakan ujian akhir semester ganjil, kampus libur panjang hampir tiga bulan lamanya. Aku mengisi liburan itu dengan magang dan menulis. Hingga aku pun ingin pulang kampung untuk mudik. Indah rasanya setelah lama tidak berkumpul keluarga besar, dimomen idul fitri kami bisa berkumpul bersama.

Setelah selesai magang, aku pun bersiap siap membereskan semua baju yang sudah tidak layak pakai dan memasukannya kedalam tas untuk dibwa pulang ke kampung halaman. Tapi tidak banyak, karena saat magang ada counter dari salah satu perusahaan deterjen menggalang aksi baju bekas untuk keluarga kurang mampuh. Aku pun memberikan semua baju lamaku kesana, ingin sekali memberikan baju bagus, namun apa daya uangnya tidak cukup.

Satu bulan lamanya waktuku habis dilokasi magang. Berangkat pagi pulang petang. Sedang puasa lagi. Dahaga, haus, dan lapar bersatu menjadi satu. Waktu itu aku ditugaskan menjadi funder zakat, dengan target lebih besar dari tahun selanjutnya. Berat ternyata, hari-hariku memikirkan target itu melulu. “waduh gimana nih target gede banget, malah sepi gada yang mau bayar zakat, infak, dan sedekah.!! Pesimis nih” setiap hari itu yang ada dalam benaku saat tidak ada yang mau bayar zakat, infak, dan sedekah.

Kembali ke cerita pendek ini, Hingga aku pun ingin pulang kampung untuk mudik.  Dua pekan sebelum idul fithri berita di media disibukan tentang arus mudik disana sini. Perasaan semakin membludak ingin segera pulkam alias pulang kampung. Indah rasanya setelah lama tidak berkumpul keluarga besar, dimomen idul fitri kami bisa berkumpul bersama. Semakin dekat dengan idul fhitri, perasaan semakin bergejolak tak terbendungkan. Kangen isi rumah, bukan kangen rumahnya.

H-4, empat hari sebelum idul fhitri. Saat itu aku pulang dari tempat magangku dalam kondisi lelah. Perjalanan cukup jauh, dengan kondisi jalanan yang macet luar biasa. Jakarta memang seperti itu. Aku pulang menuju depok. Sungguh waktu ku habis dijalanan. Sore itu, bisa dikatakan hampir maghrib, aku bingung.

“sudah jam berapa sekarang ya?? Kayaknya sudah mau adzan maghrib nih” aku bertanya dalam benakku. Ternyata saat aku melihat pengendara lainnya, masih lama waktu adzan maghrib. Sesampainya perjalanan di daerah depok adzan sudah terdengar. Namun aku belum sempat menemukan tempat yang pas untuk berbuka. Hingga akhirnya 18.30 aku mulai risau, karena belum berbuka dan belum melaksanakan shalat maghrib. Tak jauh kemudian, aku menemukan POM bensin yang didepannya ada tukang kolak.

Aku pun langsung menghampirinya. “bu, beli kolaknya satu gelas ya?? Pintaku kepada ibu pedagang kolak itu. “iya, baru buka mas??” Tanya ibu itu sambil memberikan kolak dan segelas air putih kepadaku. “iya bu, tadi macet dijalanan.” Sahutku dengan senyum lebar.
Astagfirullah….. ditengah-tengah ku menikmati buka puasa, segelas air kolak yang mengalir melewati aliran tenggorokanku, kakiku mengenai knalpot motor. “astagfirullah… aduh..panas…!!!!!” ucapku sambil mengusap kakiku yang terkena knalpot dengan muka kecut kesakitan. Bayangkan saja perjalanan jauh, engga berhenti, knalpot kayak besi baru keluar dari pembakaran. Panas sekali. “wah, mungkin ini teguran dari Allah karena aku mengakhirkan berbuka dan belum shalat.” Pikirku seperti itu.

Akhirnya aku putar motor dan pergi kearah mushola yang berada di POM Bensin. Ku taruh tas didalam mushola, kemudian aku mengambil air wudhu. Disini mulai terasa, bekas si djoeragan knalpot dikaki saat terkena air. “waduh…. Sakit.. ya Allah” gumamku sendiri pada kakiku sambil mengusapkan air kekaki korban djoeragan knalpot tadi.

Selesai shalat, meskipun gerimis hujan, aku pun melanjutkan perjalanan pulang menuju asrama. Tidak jauh dari mushola, jalanan sudah mulai gelap. Saat itu aku mengendarai cukup kenceng,

Ngeeeeengg…ngenggg……, seketika aku tak sadar, dan merasa kaget. Ternyata ditengah jalan yang gela[, didepanku ada sekeluarga naik motor matic, seorang bapak, ibunya dan anaknya masih kecil satu didepan. Mereka membawa seplastik beras. Tiba-tiba beras di plastiknya jatuh ketengah jalan. Byurrrr..rrrr.rrr….
 
Beras itu hamburan kemana mana. Bapak itu langsung berhenti ditengah-tengah. Mungkin maksudnya untuk melihat, atau mungkin reflex berhenti. Saat itu aku yang sedang mengendarai motor dengan kencang, tidak bisa menahan motor. Braaakkkkk!!!!!! Akhirnya aku banting motor itu kearah kiri, sedikit mengenai/nyenggol sibapak itu.

Brugg…brugg..brug… aku terseret diatas aspal bersama motor sekitar tujuh meter dan berakhir di pinggir jalan yang penuh dengan tanah kering. Pikiranku sudah tidak sadar, bahkan sempat lemas. Dan saat terseret, tubuh dan ruh itu rasanya seperti akan berpisah. Bahkan rasa sakit itu tidak ada, lemas, sudah seperti karet istilahnya mengikuti arus motor terseret.

Warga pun datang menghampiri dan mengangkat aku ke pinggiran. Ada yang langsung bawakan aku segelas air, ada yang meluruskan kakiku, dan banyak yang bertanya tanaya “mas…mas… ga kenapa-knapa?, ada yang sakit ga atau luka? Bapak dan ibu yang kena senggol motor, yang berasnya jatuh itu turun dan melihat kondisiku. “mas…mas…tidak ada yang luka kan? Ga knapa napa mas?” ibu itu bertanya dengan muka khawatir karena saya hanya diam saja. “mas.. ga knapa knapa?, maaf tadi beras saya jatuh” bapak itu menyambung pertanyaan dari istrinya.

Aku dikerubuti masa, layaknya gula yang dikerubuti semut. Aku pun hanya mampu diam, bahkan mau bicara pun belum bisa bicara. Aku merasa shock dan terkejut. Diam dan hanya bisa diam. Hingga sekitar beberapa menit kemudian, aku mulai bergerak, melihat tangan dan kakiku. Bapak dan istrinya masih disana melihat kondisiku. 

"iya pak, ga apa-apa, saya baik-baik saja pak.” Aku pun mulai membalas pertanyaan-pertanyaan kedua suami istri itu. “Nanti hati-hati pak bawa barangnya” sambungku. Aku pun mulai bangkit untuk membangunkan motorku, berencana untuk pulang ke asrama. Ternyata kakiku cukup sakit. Mungkin kena benturan waktu terseret. Namun aku coba untuk tidak merasakan itu. Dari ujung kaki hingga kepala seluruhnya penuh dengan tanah. Kotor sekali. Jaket tebal saja sobek, celana dari bawah hingga saku robek-robek, tas juga sobek… haduh!!!!

“Iya mas.. tadi ngedadak berasnya jatuh. Alhamdulillah mas tidak apa-apa. Saya pergi dulu mas” bapak itu cukup lega karena aku tidak apa-apa. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.

“ya Allah, mungkin aku banyak dosa hari ini. Di shaum ini semoga kejadian hari ini menghapuskan kesalahan-kesalahan ku ya Rabb” gumamku dalam hati.

Sempat kesal juga dengan bapak-bapak tadi, ibarat di kartun, kalo kesal keluar animasinya dari pikirannya sambil kepal-kepal tangan saking kesalnya, “enak aja pake bilang ga apa-apa, orang tubuh kotor gini, lutut darahan, costum pada sobek, tas juga sobek. Pake bilang ga apa-apa”!!!! kesal ungkap demikian..

Ya, tapi mau gimana lagi, ini kan kecelakaan. Aku coba mengikhlaskan nya. Akhirnya dengan kondisiku seperti tadi, aku melanjutkan perjalanan menuju asrama.

Aku teringat martabak telor yang aku beli di kantin, kantor tempatku magang. Aku beli buat mpo asih. Beliau pemilik warung tidak jauh dari mesjid. Hari-hari sebelumnya aku pernah bawa, tapi sedikit. “din enak… beli dimana??? Bawain ya.” Ungkap beliau dihari itu. “iya insyaAllah teh ya” jawabku

Assalamu’alaikum. .aku pun turun dengan muka 5L, letih, lesu, lemah, letoy, leyod….”teh aku jatuh!!!”” ungkapku dengan muka agak kesakitan gitu.

Dimana…dimana??? Serentak warga yang sedang di warung mpo asih bertanya dan melihat. “Astagfirullah, jatuh dimana atuuh???” sampai kotor banget tuh badan, coba cek ada yang luka ga?? Cepet di urut tuh… kata emak pemilik warung nasi itu. Kami memang biasa manggilnya emak..Yasudah teh, aku mau ganti dulu baju ke asrama….!!! 

“iya, itu nanti diurut ya, khawatirnya ada yang salah urat” ungkap emak ..
Lagi ngobrol lupa, martabaknya belum dikasih… mamah nayla, yang sedang perhatikan motorku bilang “ini apa di plastic????
“oia, lupa. Aku bawain martabak teh, buat teh asih”, kemarin kan aku sudah janji….
“aduuh, kamu kok bawain segala si??? Makasih ya..” ungkap teh asih dengan muka terharunya itu…

Yasudah aku ke asrama dulu ya.., akhirnya aku jalan ke asrama untuk mengganti kostum.
            Singkat cerita kostum berganti, mandi de el..ell…

Teringat perkataan emak tadi, “di urut ya”..
Ah, ga usah. Toh engga apa-apa ko… gumamku
Akhirnya aku langsung berangkat ke mesjid untuk shalat isya sekaligus tarawih. Dan Alhamdulillah sepanjang itu tidak terasa apa-apa dalam raga ini (aiissssssshh)
Pulang tarawih, istirahat dan Alhamdulillah keesokan harinya, aku lanjutkan aktifitas magang kembali. Dengan muka sumringah aku sambut pagi dengan hamdalah.
Hah!!!! Bismillah, semoga hari ini berkah…..

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
Powered by Blogger.

Sidebar Ads

x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator