Ditulis oleh :
Dimana pun aku mati, aku tak peduli
Asalkan iman tetap terpatri
Untuk Allah semua itu kulakukan
DariNya, berkah kuharapkan
Dari tetesan darah dan goresan luka
khubaib bin ‘adi

Saya awali tulsian ini dengan potongan senandung cinta seorang syuhada, khubaib bin ‘adi yang gugur ditiang salib, disiksa oleh orang musyrikin yang dimakan api dendamnya. Seorang putra dari Harits bin Amir bin Naufal, yang ia mati ditangan khubaib saat perang Badr. Kematian ayahnya itu membawa putra harits untuk menyiksa Khubaib pada sebatang pohon kurma. 

Seandainya kita diberikan pilihan hidup, memilih hidup santai tanpa beban atau hidup dengan adanya beban?. Sejatinya kita akan memilih opsi yang pertama, hidup tanpa beban. Santai saja pekerjaannya. Kita hidup berada di zona keheningan dan kenyamanan yang damai. Bahkan diera modern ini, hidup tenang uang ngalir itu yang menjadi angan-angan lamunan. Enak sekali rasanya.

Namun ternyata yang kita dapatkan dilapangan, semua idealitas kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang harus kita selesaikan. Tidak ada istilahnya orang yang free dari beban. Bahkan setiap detik melintas beban dalam pikiran kita. Bahkan ukuran makan saja tidak sedikit yang menjadikan itu sebuah beban. Pernahkah kita melihat sebahagiaan orang yang ia bersusah payah untuk mencari sesuap makan hingga ia harus bergumul dengan baunya kotoran jalanan. Jika kita tidak merasakan itu, maka kita bersyukur karena Allah sudah memberikan kita kemudahan untuk merasakan beban yang lebih besar. Paling tidak kita memikirkan bagaimana menyelesaikan permasalahan mereka yang berada di garis-garis kritis zaman.

Kata “Beban” seolah menjadi sebuah kata yang berat dan tidak menyenangkan. Akan tetapi bersama beban inilah setiap manusia mampu menempuh dan mencapai titik-titik kritis dari kadar jiwa mereka. Sederhananya ketika kita menaiki sebuah tangga, apa yang kita rasakan? Berat. Seluruh energi kita keluarkan agar mampu mencapai tangga demi tangga. Akan tetapi saat kita coba kembali turun kemudian naik lagi maka tangga yang pernah kita lalui akan terasa lebih ringan, tapi bukan berarti tidak mengeluarkan energi untuk turun.
Seorang ayah tidak akan berangkat untuk mencari nafkah jika bukan karena beban, tidak hidup nyaman seorang presiden dengan adanya keterbebanan hidup rakyat-rakyatnya, seorang Da’I tidak akan berdakwah jika bukan adanya beban sebagai khalifah fiil ardh. Seorang Soekarno tidak akan menjadi tokoh revolusioner jika bukan karena beban rakyat Indonesia. Rosululloh SAW dan para sahabat terus berjuang karena adanya beban kekhawatiran atas umat.

Inilah rahasianya, kata ust. Anis matta, “Hidup kita beban saja kerjanya, dan karena itu kita hanya bisa menjadi pemimpin, karena kita memikul beban lebih banyak dari orang lain. Itulah sebabnya pencetak sejarah itu sedikit”.

Mulai saat ini, tidak ada alasan untuk tidak menikmati beban-beban yang singgah. Ternyata kita sadar, apapun yang tampak masih bisa kita jangkau dengan kaki kita.

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al baqarah: 286)

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya”. (QS. Al mu’minun: 62)

Sambutlah beban-beban itu dengan senyuman, ketenangan rasa, kearifan jiwa, gelora cinta dan nikmati dengan harmoni. Karena hanya dengan beban itulah kita semakin dekat dengan-Nya, semakin dekat dengan hijaunya taman syurga, semakin cepat kita mendekap bidadari disana, dan kekal didalamnya. aamiin

Jika khubaib menutup bebannya dengan doa “ya Allah, kami mengemban misi Rosul-Mu, sampaikanlah kepadanya penyiksaan yang mereka lakukan kepada kami”, maka kita jalani beban kita dengan berdoa “ya Allah, kami mengemban misi Rosul-Mu, sampaikanlah kepadanya salam cinta dari kami, kami berjuang semampu kami hingga kami tidak sadar jika kami telah kembali kepada-Mu”. Wallahua’lam

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
Powered by Blogger.

Sidebar Ads

x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator