Ditulis oleh :


“Mak, aku mau sekolah ke SMA mak”
Emak hanya tersenyum saja, bola mata pias itu pun berkaca-kaca “iya nak, emak nanti usahain. Mudah-mudahan Gusti Allah ngasih jalan”
“Ujang mau jadi apa?” suaranya terdengar berat, seketika emak seperti mengisak sedih.
“Ujang mau jadi penulis mak, Ujang mau ke alexandria. Katanya Alexandria itu perpustakaan terbesar dan banyak bukunya mak” mataku berbinar, seolah Alexandria ada di depan mata.
Beberapa hari setelah itu aku dipanggil pak RT untuk datang kerumahnya, sontak aku bingung karena jarang-jarang pak RT panggil begitu saja.
“assalamu’alaikum, Pak Hasan..” salam itu aku ulang hingga tiga kalinya. Rumah panggung dengan cat birunya itu membuatku sedikit gagap membeku. Seketika pak Hasan pun keluar buka kan pintu, “oh Ujang,, masuk jang”
“i..i..iya.. pak” aku pun sedikit gelagapan
Dari arah dapur, bu Ida datang dengan membawa segelas air putih dan sepiring pisang goreng. “eh Ujang, apa kabar jang? Gimana sekolah mu, lancar?” bu Ida pun duduk disamping pak Hasan.
Senyum ramah bu Ida, membuatku sedikit tenang. Beliau termasuk tokoh perempuan yang disegani dan baik hati.
“Dulu bapakmu kawan baik semenjak kecil, dia pernah bilang kalo dia menikah dan punya anak, dia mau anaknya jadi orang besar dan dikenal dunia. Tapi ternyata bapakmu duluan menghadap Gusti Allah. Mungkin Gusti Allah ngagaduhan rencana lain, termasuk Ujang. Pak Hasan lupa, saat sebelum almarhum bapak mu meninggal, beliau titip bapak barang. Katanya buat putranya, wasiatnya barang ini diberikan jika putranya sudah besar”. Pak Hasan pun menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam dengan corak keemasan.
“oh gitu pak, iya makasih pak” saat itu senang dan penasaran bercampur baur, aku belum pernah liat bapak ku sama sekali. Hari ini pak RT ngasih titipan dari bapakku buatku.
Aku pun berlari untuk temui emak di rumah, dengan bahagia aku panggil emaku “mak….mak…dimana???” saking  senangnya, aku lupa suaraku terlalu keras. Seperti sedang orasi saja.

Bu Ratna, tetangga sebelah keluar rumah, heran dengan tingkahku yang aneh. “kenapa jang? Bikin ibu khawatir saja?”
“hehe.. engga bu, “ senyumku malu, sambil garuk kepala. Seperti maling yang kepergok satpam saja rasanya.

Aku pun menghampiri emak di kamar, duduk disebelahnya dengan senyum sumringah tak terbendung.
“Mak.. pak RT ngasih ini, katanya dari bapak”
“apa itu jang?”
“ga tau mak, Ujang belum buka, katanya bapak ngasih sebelum ia meninggal”
“oh gitu, coba buka jang”
“emak yang buka deh,”
Sudah mirip kucing lapar yang liatin tulang ikan saja, aku tak sabar dengan isi kotak dari bapak itu.

Saat emak buka, ternyata isi kotak itu selembar peta dunia dan sepucuk surat.
Nak, bapak pamit duluan bukan karena bapak tak cinta,
namun apa daya dunia seolah belum tepat untuk kita rajut bersama.
insyaAllah kita bersua kembali di hijaunya taman syurga.
Aku menantimu nak bersama ibumu.
Bapak kasih kamu selembar Peta,
bapak mau kamu hidup bukan hanya untuk dirimu sendiri,
tapi masih banyak orang lain yang harus kamu perhatikan.
Dunia ini menantimu nak, bapak yakin kamu bisa menanam benih dimanapun,
seperti peta ini, kamu lihat dunia dalam sebutir bola mata”

Surat itu seolah mengoyak hati ku dan emak, air mataku tak terbendung deras mengalir. Emak memeluku erat. Aku merasa ada sakit yang dalam yang tak ku sadar. Hatiku teriak!, Bapak seolah bicara didepan kami. Aku hanya bisa tertunduk terpejam.

Keesokan harinya, aku tempelkan peta dan surat itu ditembok kamarku yang agak lusuh. foto bapakku waktu muda aku tempel juga disampingnya. Tatapan tajamku pada foto bapak seperti elang yang siap menerkam ular. “pak, aku janji aku akan keliling dunia, untuk wujudkan cita-citamu” tanganku mengepal kuat, selanjutnya telunjuku menunjuk mesir, 

“Alexandria, aku datang!!!”

Satu minggu lagi ujian nasional akan diselenggarakan, tapi yang aku pikirkan bukan ujian nasional melainkan bagaimana setelah lulus dari SMP ini. Aku bukanlah siswa berprestasi seperti Adi tetanggaku yang selalu mendapatkan juara kelas. Tapi aku punya mimpi dan keyakinan yang kuat bahwa Gusti Allah pasti akan tunjukan jalan buat ku. Setiap malam aku merenung dan berdoa “ya Allah, bimbing aku untuk menjadi salah satu anak yang bermanfaat untuk negeri ini, aku ingin sekolah ya Rabb”. Tiap sebelum tidur, doa itu selalu aku ulang-ulang, kadang seragam putih abu mampir di mimpi malamku. Semoga itu menjadi pertanda bahwa aku pasti akan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

Seminggu sudah, ujian nasional pun usai, aku tak sabar menanti pengumuman. Saat subuh emak membisikan ketelingaku “jang, emak doain cita-cita Ujang kecapai, jadi anak soleh dan bermanfaat untuk orang lain”. Aku pun terheran, biasanya emak tidak seperti ini. Subuh ini ia diluar biasanya. “Ujang hari ini mau kemana?, dirumah saja ya? Hari ini emak kurang enak badan” sambung emak dengan muka sayupnya.

“tapi mak, hari ini ada pengumuman hasil ujian Nasional, Ujang takut ga lulus mak” ucapku menolak permintaan emak.
“yasudah, emak doain aja Ujang dapat nilai yang bagus.”
Sesampai disekolah, hatiku berdegup kencang tak karuan saat pak indra kemahasiswaan di sekolahku menempelkan hasil ujian Nasional di mading sekolah.
Pak Indra melontarkan senyumnya padaku “selamat ya jang, bapak tuh selalu yakin kamu adalah orang hebat” selesai menempelkan pengumuman pak indra pun pergi. Aku belum sempat Tanya apa maksud pak indra itu.

Serentak teman-temanku berdatangan. Mading menjadi riuh, seperti gula yang dikerubuti semut, penuh berdesakan. Mataku bolak balik, kanan kiri seperti bocah yang kebingungan cari alamat. Telunjukku ikut menyisir mading, tapi nama Ujang tak kunjung aku temukan.

“gimana jang, hasil ujiannya?” Adi datang dan merangkul pundakku.
“iya nih di, ko namaku beum ketemu ya” mukaku bingung dan hawatir takut tak lulus.
Saat itu aku hanya memperhatikan baris-baris siswa yang ada di absen belakang. Karena aku merasa tidak mungkin aku mendapatkan nilai yang sejajar dengan Adi yang selalu juara kelas itu.

Adi yang juga mencari namanya, kaget ternyata nama “UJANG” berada di posisi teratas dengan nilai paling besar. “jang… jang… disini!!!” Adi memanggilku dengan muka bahagia. “wah, kayaknya Adi juara umum” gumamku.
“kamu juara umum jang…..”
“masa??, ga mungkin ah” aku sempat tak percaya
Aku pun melihat sendiri, lembar kertas teratas itu dengan 30 baris nama siswa-siswi kelas tiga, di angka satu ternyata nama “UJANG”. Aku pun bingung, ragaku seperti tertimpa sekarung beban. Berat! Kakiku mulai lemas, tubuhku ringkih. Aku terjatuh tersungkur “ya Allah, terimakasih” seketika airmataku berlinang tak tertahan. “pak, aku juara umum pak” gumamku dalam hati.

Mulutku tak henti-hentinya ucapkan hamdalah. Seketika teman-temanku mengucapkan selamat, guru-guru juga demikian. Aku sempat tidak percaya, karena dikelas nilaiku standar saja. Tapi Allah berikan mutiara ditengah pekatnya prahara hidup ku dan emak.

aku pun pulang untuk sampaikan kabar gembira ini ke emak. “mak..mak…lagi dimana?, Ujang pulang mak!” siang itu rumah terasa kosong, emak tak jawab salam ku. Aku kira emak sedang keluar belanja untuk makan sore ini.
Akan tetapi saat aku kekamar emak, ternyata emak sedang terbaring ditempat tidur. “oh emak disini! Mak, Ujang ada kabar baik mak, Ujang juara umum mak, mudah-mudahan Ujang bisa lanjutin SMA dengan beasiswa”
Emak tak kunjung menjawab ucapan ku, ia tetap menutup matanya. Perasaanku mulai tak enak, aku tidak biarkan pikiranku terlalu jauh pada emak. Mungkin emak sedang kecapean. Aku coba bangunkan emak dengan mengusik tangan emak “mak…mak…Ujang pulang. Mak..mak!!! Ujang pulang” emak tak kunjung bangun.
“mak..mak..” aku semakin keras mengusik bahunya. Aku terdiam..tubuhku terjatuh dengan muka tertungkup pada tangan emak.
Lambat laun air mataku keluar, “tidak mungkin…tidak mungkin emak!!!” aku mencoba melawan diriku, menggelengkan kepala.
“emak… bangun mak.. Ujang pulang mak!!!” suaraku meninggi membangunkan emak. “emak, Ujang juara umum mak, emak harus bangun” suaraku merendah seolah hilang bersama kepergian emak.
“andai aku mengikuti permintaan emak, mungkin aku tak akan semenyesal ini. Aku tentu masih bisa melihat senyum emak yang terakhir kalinya” aku merintih meratap kondisi emak.

Setelah beberapa menit, aku pun menghampiri pak Hasan dan mengatakan bahwa emak telah pulang ke rahmatullah. Pak Hasan dan bu Ida pun ke rumah untuk melihat emak. Seketika rumah pun ramai oleh warga kampung.

Emak pun dikebumikan tak jauh dari rumah, tempat yang biasa digunakan untuk memakamkan masyarakat dikampung ini.
Selepas emak tiada, hari-hari terasa sepi, hening dan penuh kesedihan. Teringat wasiat dari bapak yang ditulis di surat. Aku pun memajangkan foto emak disamping peta yang bapak berikan itu. “mak, pak, Ujang janji akan wujudkan cita-cita emak dan bapak” ucapku menggeram.

Mulai hari itu aku diajak tinggal bareng pak Hasan dan bu Ida. Aku mulai tinggal bersama keluarga baruku. Peta, surat, foto emak dan bapak aku bawa juga pindah. Saat itu menjadi awal perjalananku lagi dalam mewujudkan cita-cita ku dan mereka.

Aku beruntung mendapatkan tawaran beasiswa dari salah satu sekolah menengah atas. Aku pun mengambil tawaran itu dan mulai belajar disana. Cita-citaku menjadi seoang penulis coba diwujudkan dengan mengawali menulis di buku diary, kemudian di sekolah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler menulis. Aku mulai mengisi kolom penulis di mading sekolah, mengikuti ajang perlombaan. Perjalanan putih abu menunjukan peluang-peluang menuju cita-citaku itu.

Suatu hari, saat aku ingin menempel tulisanku di mading, ada selembar pamphlet yang ditempel. Tertulis disitu “lomba menulis tingkat nasional”.
“wah lumayan nih!!!” gumamku.
Aku pun coba menulis dengan tema yang ditentukan oleh panitia. Setelah selesai aku pergi ke post dan mengirimkan karya tulis ku. “Alhamdulillah semoga juara, aamiin” aku berdoa di kantor post.
Satu pekan dari lomba itu, ada surat datang ke sekolah atas nama “Ujang”. Aku dipanggil oleh kemahasiswaan untuk mengambil surat itu. “katanya ada surat pak untuk saya?” tanyaku ke pak Edo kemahasiswaan SMA ku. “iya, ini suratnya” pak Edo menyodorkan sambil tersenyum.
Sedikit demi sedikit aku sobek amplopnya, rasanya penasaran dan deg-degan. “krisek..krisek” suara lipatan kertas aku buka.

“Saudara Ujang, terimakasih telah mengikuti ajang perlombaan menulis tingkat nasional,
Tapi kali ini saudara belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi juara,
melainkan menjadi juara harapan”

Aku pun menghela nafas, mencoba membuka pikiran “ternyata masih banyak penulis hebat diluar sana!” gumamku semangat
hari demi hari aku coba tingkatkan kemampuan menulisku, dengan mengikuti forum penulis, mengikuti seminar menulis, talkshow, dan sejenisnya.
Kelas tiga SMA, siang itu aku sedang berbincang dengan teman-temanku disekolah. Kemudian pak Edo datang menghampiriku “jang, kamu suka menulis kan?, ini ada peluang! Hadiahnya lumayan jalan-jalan ke luar negeri” ucap pak Edo sodorkan pamphlet.
Aku mulai tatap pamphlet itu, disana tertulis “ALEXANDRIA” sontak aku terbangun, tulisan itu membangunkan angan lamunanku. “a-l-e-x-a-n-d-r-i-a-“ mulutku mengeja tulisan itu.
“bro, nih bener Alexandria?” tanyaku pada kawan-kawan
“iya jang, Alexandria, lumayan tuh ikut… kali aja kamu menang jang!!!”
Ajang lomba menulis kali ini diadakan oleh komunitas penulis nasional yang bekerjasama dengan salah satu universitas dimesir. Hadiah yang ditawarkan adalah kunjungan ke perpustakaan Alexandria.
Aku pun pulang, aku tutup kamar rapat-rapat, aku tatap kembali pamphlet itu sambil menatap peta dan fhoto emak juga bapak. “mak, pak, Ujang akan terbang ke alexandria, kali ini Ujang harus menang” ucapku optimis.
Setiap kali menulis, bayang-bayang emak selalu muncul dan tersenyum, wasiat bapak terkenang terus ditelinga. Jari-jemariku seolah menari sendiri, ia torehkan tinta dengan gemulai.

Hingga tiba waktunya aku kirimkan post karya tulisanku ini. Gumamku optimis “ALEXANDRIA, Aku datang!!!” jiwa ku merasa bebas, terkirimnya tulisan itu seolah mengirimku menuju Alexandria.
Satu pekan sudah, akhirnya ada amplop datang ke sekolah atas nama Ujang. Pak Edo pun memanggilku untuk mengambilnya. Baru kali ini aku merasa tegang, aku pun mengajak kawan-kawanku untuk ikut. “bismillahirrahmanirrahim” aku mulai menyobek kertas amplop.
Kawanku semua seolah terhipnotis oleh amplop itu, semua ikut penasaran dan tegang. Sekolah serasa hening, semua mata terpaku pada amplop itu.

Teng!!!! Suara bel terdengar kencang ditelinga kami, kami yang membuka amplop didekat bel merasa kaget. Sontak keheningan itu hilang seperti debu tertiup angin.
“tanggung ah, yuk buka lagi” ucap salah satu kawan, dengan muka penasarannya
Kami pun membuka amplop itu, aku mulai mengangkat selembar kertas “krisek..krisek..” kubuka dan kubaca “SELAMAT SAUDARA UJANG MENDAPAT JUARA PERTAMA DAN BERHAK BERANGKAT KE ALEXANDRIA” seketika semua girang, suasana menjadi riuh. Aku pun memeluk kawan-kawanku dengan menangis haru. Semua kawanku ikut mengangis karena terharu bahagia.

“mak, pak, Ujang ke ALEXANDRIA, cita-cita Ujang mak, pak” gumamku bersama berlinangnya air mata.

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
Powered by Blogger.

Sidebar Ads

x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator