Ditulis oleh :


“...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...”
 (QS. Ar-Ra’du: 11).

Keyakinan yang kita miliki akan suatu hal akan mendorong segenap diri dan semesta untuk bisa mencapainya, karena semesta pun bertasbih dengan senandungnya masing-masing kepada Rabbnya, Sang Pencipta mereka, tak lupa akan titah Tuhannya mereka senantiasa memuji Rabbnya yang telah memberikan kehidupan sesuai aturannya masing-masing.
Ketika kita ingin mencapai apa yang kita inginkan, maka kita pun harus bergerak ke arahnya, tidak bisa hanya dengan duduk-duduk diam dan menunggu ia datang dengan sendirinya, itu hanya ada di dunia khayalan, sementara kita nyata hidup di dunia ini, dimana manusia diperintahkan menjadi khalifah di muka bumi, dan banyak melakukan ibadah layaknya semesta yang juga bersenandung memuji Rabbnya, itulah cara semesta beribadah.

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

            Begitulah titah Allah S.W.T. kepada alam semesta ini, agar semua beribadah mengabdi kepada-Nya, meniatkan segala amal yang kita lakukan semata hanya untuk-Nya hingga kemudian Allah memberikan ganjaran pahala yang sesuai untuk kita, dan beruntunglah bagi hamba yang bisa mendapat Ridho-Nya hingga sampai ia ke surga Allah, semoga kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang mendapat Ridho-Nya. Amin.
            Kewajiban kita di dunia ini hanyalah beribadah, jangan kita merisaukan hal-hal lain yang bisa membuat hati gelisah dan tidak tenang, khawatir tidak lulus sidang skripsi, khawatir tidak bisa mendapat pekerjaan yang layak, khawatir tidak dapat menikahi pasangan pujaan hati, dan sebagainya. Selama kita taat beribadah dan beramal sesuai apa yang diperintah-Nya, maka Allah pun akan menjamin kebaikan untuk kita sesuai dengan seberapa yakin kah kita kepada janji Allah tersebut. Maka yakinlah akan janji-Nya, Allah tidak mungkin menelantarkan hamba-Nya begitu saja.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya...”(QS. Huud: 6).

            Itulah prasangka baik yang Allah kehendaki kepada hamba-Nya, maka Allah akan memberikan janji-Nya, karena Ia sebaik-baik pemberi janji.

Maksimalkan Ikhtiar, Sempurnakan Tawakal
            Keyakinan itu kita bawa pada ikhtiar yang membersamai langkah kita, layaknya Panglima Al Fatih dalam yakinnya menaklukan Konstantinopel, layaknya Abu Bakar r.a. dalam membenarkan peristiwa isra’ dan mi’raj hingga nyawa beliau yang menjadi taruhannya, keyakinannya mengajak segenap jiwa dan raganya rela bertaruh nyawa demi keselamatan sang Nabi yang dicintainya, demi ridho Allah yang ingin digapainya, itulah keyakinan yang kuat.

“...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (QS. Ar-Ra’du: 11).

            Itulah keyakinan yang dipegang teguh oleh Abu Bakar r.a. ketika hanya beliau satu-satunya yang menyatakan pembenaran peristiwa yang dialami Rasulullah S.A.W., padahal sang Ash-Shidiq sendiri tidak turut mengalaminya bersama Rasul tercinta.
            Hal itu membawanya pada ikhtiar maksimal dalam menunjukkan cintanya pada Rasul dan cintanya kepada Allah. Ketika itu Abu Jahal dan pasukannya mengerahkan tenaga untuk bisa membunuh Rasulullah, bahkan sayembara hadiah 100 ekor unta bagi siapa pun yang dapat menemukan Rasulullah.
Malam itu, Rasulullah dan Abu Bakar secara diam-diam pergi untuk bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy, ketika sampai di sebuah gua yang disebut Tsur masuklah Abu Bakar terlebih dahulu untuk memastikan keamanan sebelum Rasulullah masuk. Gua yang tidak lebih besar dari ukuran yang cukup untuk dua orang berselonjor kaki itu terdapat banyak lubang dan batu yang mengganjal, hingga diriwayatkan Rasulullah pun berbaring meletakkan kepala beliau dipangkuan Abu Bakar dan akhirnya terlelap, sembari Abu Bakar menutup lubang-lubang gua dengan tangan dan kakinya. Tak disangka tiba-tiba kaki Abu Bakar disengat hewan berbisa, tapi sakit yang amat sangat itupun ditahannya karena tidak mau mengganggu Rasulullah yang sedang tertidur, hingga akhirnya Abu Bakar menangis dan air matanya jatuh menetes di pipi Rasulullah.
            Keduanya bersembunyi di dalam gua, sampai akhirnya pertolongan Allah pun datang ketika kejaran kaum kafir Quraisy mencapai mulut gua, diutus oleh-Nya laba-laba untuk membuat sarang di pintu masuk gua beserta sepasang merpati yang dengan taatnya menuruti apa yang Allah perintahkan untuk melindungi Rasul dan sahabat sejatinya itu. Karena dipikir mustahil Rasul dan Abu Bakar masuk ke dalam gua tanpa merusak sarang laba-laba dan mengusir burung merpati, akhirnya Quraisy yang kafir itu pun berlalu begitu saja.
            Itulah ikhtiar maksimal sekaligus kepasrahan dalam tawakal yang dimiliki Abu Bakar, ikhtiar yang dilakukan tanpa memikirkan dirinya sendiri, solusi dari masalahnya sendiri yang juga sangat mengancam jiwanya, tapi yang Abu Bakar yakini adalah bagaimana agar cintanya juga berbalas dengan dicintai Allah dan Rasul-Nya.
            Ikhtiar itu sendiri pada hakikatnya bukan berarti upaya mencari solusi dari suatu masalah, melainkan upaya mendekatkan diri kepada Allah agar Allah menolong kita keluar dari masalah yang sedang kita hadapi, sedangkan tawakal berarti kepasrahan sepenuhnya akan pertolongan Allah setelah berupaya maksimal dalam amal ibadah yang mendekatkan diri kita pada-Nya. Itulah hakikat dari ikhtiar dan tawakal.
            Ikhtiar yang maksimal akan muncul dari keyakinan yang penuh pula, keyakinan akan janji dan kebaikan dari Allah kepada hamba-Nya.

Dari Umar bin Khattab r.a. berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah saw. bersabda, sekiranya kalian benar-benar tawakal kepada Allah S.W.T.. dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah S.W.T..), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (H.R. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
Powered by Blogger.

Sidebar Ads

x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator