Ditulis oleh :


“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya”
(HR. Muslim)

Apabila direnungkan secara mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah yang telah kita terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Allah S.W.T. berfirman,

''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha PengampunlagiMahaPenyayang.''(QS..An-Nahl: 18).

Dalam banyak nikmat itulah, kita dituntut untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah S.W.T., karena dengan begitu kita menjadi orang yang pandai bersyukur.
Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat.
Syukur secara bahasa berarti pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, rasa terima kasih. Sedangkan menurut istilah adalah rasa terima kasih kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Seperti yang telah dijabarkan oleh Ibnu Qayyim, syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya, dengan melalui lisan, melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah, melalui anggota tubuh, serta kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Sedangkan lawan dari sykur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari nikmat Allah.
Pada dasarnya semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah. Contohnya, ini bisa dipahami dari perintah Alah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia.
Perintah bersyukur kepada orang tua sebagai isyarat bersyukur kepada mereka yang berjasa dan menjadi perantara nikmat Allah. Orang yang tidak mampu bersyukur kepada sesama sebagai tanda ia tidak mampu pula bersyukur kepada Allah S.W.T..
Syukur akan menguntungkan pelakunya. Sekalipun seluruh makhluk bersyukur, Allah tidak akan memperoleh keuntungan dari syukur makhluk-Nya. Begitupun jika semua makhluk tidak bersyukur, Allah tidak akan merugi atau berkurang keagungan-Nya. Seperti dalam Q.S. An-Naml: 40,

''Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.''

Dalam Mihrab Syukur Ku
Allah S.W.T.. dalam banyak ayat Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Seperti dalam firman Allah, yang artinya

Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar. (QS. Al-Baqarah: 152)

Dalam mihrab syukur, manusia akan memahami kaidah langit yang agung, bahwa ketika manusia bersyukur, maka Allah akan menambahkan kenikmatan padanya, sedangkan ketika tidak bersyukur, maka sungguh azab Allah begitu pedih. Jika syukur itu adalah biji, maka ketika biji itu ditanam, disiram dan dipelihara, maka biji itu akan menjadi tunas, akarnya menghujam dalam, menumbuhkan batang, daun, hingga berbuah. Kita bisa merasakan manisnya buah itu, diantaranya ;
·         Syukur adalah sifat orang beriman
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692)

·         Mendapatkan balasan/ganjaran dari Allah.
“Barangsiapa yang berbalik menjadi murtad, maka sedikitpun ia tidak merugikan Allah; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).

Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq: “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263)

·         Memperoleh pelajaran dari Allah
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur". (QS.. Al-A’raaf: 58)

·         Mendapatkan keselamatan
"Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Lut. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur".(QS.. An-najm: 34-35)

·         Mendapatkan ridha Allah
"Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu".(QS. Az-Zumar: 7)

·         Allah akan menambah nikmat-Nya
'Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. (QS. Ibrahim: 7)

Orang Bersyukur Itu...
Orang bersyukur itu selalu mengakui dan menyadari bahwa Allah telah memberinya nikmat. Ia senantiasa menyandarkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah S.W.T., ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah-lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur senantiasa lupa akan hal ini.
Orang bersyukur itu, selalu “say, alhamdulillah…”. Mungkin kebanyakan dari kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita alami dan mengeluhkannya kepada orang lain. “saya sedang sakit ini…”, “saya baru dapat musibah itu…”, “saya kemarin rugi sekain rupiah…” dan sebagainya. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Seperti firman Allah. “...wa’amma bini’mati robbika fahaddits...” yang artinya “dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha:11). Perbanyaklah berkata “alhamdulillah saya kemarin …”, “alhamdulillah ini…” dan sebagainya. Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri).
Orang bersyukur itu menunjukkan rasa syukur dalam bentuk ketaatan kepada Allah. Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas kekuasaan dan rahmat Allah. Namun disisi lain ia melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan bezakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan perbuatan. Maka rasa syukur itu hendaklah ditunjukkan dengan ketaqwaan.

Dari Hati Hingga Tindakan
Syukur bukan hanya terwujud pada tindakan saja, melainkan syukur itu harus bermuara dari hulu tindakan yaitu hati. Seperti kata Ibnu Al-Qayyim “hati adalah sang penguasa, akan dimintai pertanggung jawaban. Maka akan bijaksana saat syukur bermuara dari hati jua. Dengan Mengakui dan meyakini bahwa nikmat yang diperoleh semuanya berasal dari Allah dan bergembira atas nikmat tersebut, maka jangan jadikan kita generasi pengingkar pada nikmat Rabb. Allah S.W.T. berkata melalui firman-Nya,

“Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim:34)

Setelah dari hati, maka selanjutnya menuju aliran lisan. Dengan mengungkapkan kegembiraan atas nikmat itu dengan mengucapkan hamdalah, “say, alhamdulillah…” serta memberitakan nikmat itu kepada orang lain jika dimungkinkan tidak akan terjadi fitnah. Hal ini menjadi wujud nyata dari wujud syukur kita kepada Allah S.W.T..
Berikutnya adalah hilir dari muara syukur, yaitu tindakan dan perbuatan, dengan inilah rasa syukur kita akan lebih sempurna. Maka sempurna sudah setiap detik waktu kita dengan syukur dari hati hingga tindakan. Jadi katakanlah, jauh-jauh lah rugi dariku! Karena Allah selalu dalam mihrab syukur ku!”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lau ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh” dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Munaafiquun: 9-11)

Tips agar menjadi orang yang bersyukur
a.         Berterima kasih kepada manusia
seperti sabda Nabi Muhammad “orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi)
b.        Merenungkan nikmat-nikmat Allah
c.         Qana’ah (senantiasa merasa cukup atas nikmat Allah)
d.        Sujud syukur atas kenikmatan yang begitu besar
e.         Berdzikir dan memuji Allah
f.             Melihat keadaan orang yang berada di bawah (kurang beruntung)
g.        Mengetahui hikmah bersyukur
h.        Mengetahui akibat buruk bagi orang yang tidak bersyukur.

Begitulah syukur, akan membawa kenikmatan lain yang lebih besar. Ketika manusia kufur, maka sungguh azab Allah itu sangatlah pedih. Mengisi waktu dengan penuh syukur, maka akan membawa keberkahan yang amat besar untuk nafas-nafas yang sudah dihembuskan. Jangan biarkan diri kita terjerambab dalam kebutaan dunia dengan bersyukur kepada selain Allah, ritualisasi rasa syukur yang tidak diajarkan agama, mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual yang mengarah kepada syirik.  Maka, say alhamdulillah..dan wujudkan dalam tindakan selanjutnya.

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
Powered by Blogger.

Sidebar Ads

x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator