Ditulis oleh :
“kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya,

ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu kesamaan

ada panas dan dingin bertemu untuk mencapai kehangatan; itu keseimbangan

ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman; itu kegenapan

tapi satu hal tetap sama,

mereka cocok  karena bersama bertasbih memuji Allah

seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, ruku’ pada keagunganNya”

(Salim A Fillah)




Sebelumnya, ada hal yang ingin saya bagikan kepada sahabat pembaca sekalian, sepotong episode dari seorang pemuda. Beliau menuturkan kisahnya demikian ;

Saat itu, aku ingat benar saat pertama kali aku bertemu dengannya. Ada satu getaran yang berbeda, getaran yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku kira itu biasa saja, awalnya biasa, namun aku tidak tahu kapan muncul rasa, namun ternyata itu tidak biasa.

Ah, aku hanya bisa menghela nafas kali ini, rasa itu meresonansikan syaraf-syaraf otak ku untuk mengingatnya, aku sendiri merasakan ada yang tumbuh dalam hati ku.

Lebih dri sekedar kata kenal, atau teman, tapi lebih ! muncul perasaan yang lebih dari itu. Yah, aku sadar, sepertinya aku mulai menyukaimu, mulai ingin memperhatikanmu, peduli denganmu, dan khawatir kehilanganmu. Dua hal terjadi dalam satu waktu, suka namun malu, peduli namun cemburu, pesimis namun romantis.

Setiap kali aku membuka BBM, kontaknya terlihat update. Rasanya muncul bisikan deras dari perasaan yang bersemayam untuk melihat DP. Dorongan itu seolah membisikan “ayo sapa ia”. Aku sadari itu adalah pekerjaan yang tidak penting, namun dorongan hati teramat kuat, meskipun hanya sebatas melontar kata salam dan menanyakan kabar.

Kadangkala saat aku membuka twitter, aku melihat ia update dengan statusnya. Seolah muncul dorongan untuk melakukan pekerjaan yang sering dikenal “stalking”. Yah, dorongan itu lahir begitu saja, seolah ingin tahu apa yang ia lakukan, bagikan, dan rasakan.

Sering aku melihat tweetnya yang seolah menunjukan kepada seseorang. Kadang muncul ke GR an bahwa kayaknya itu tertuju padaku. Kadang setelahnya aku tersenyum sendiri. Namun mungkkin itu hanya perasaanku saja yang terlalu berharap darinya.

Saat ia berbalas mention dengan orang lain yang berhujung pada emo smile dengan kata-kata yang hangat , atau sedikit perhatiannya. Aku merasa ada gejolak yang menyayat dalam dada, yah itu cemburu. Aku merasa cemburu, padahal aku harusnya sadar, siapa aku dan siapa dirinya atasku. Aku bukan kakaknya ataupun suaminya. Namun itu datang dengan sendirinya. Mungkin itu sebuah kebodohan yang menyanderaku dalam bias perasaan cemburu.

Kadang kala aku membuka Facebook, melihat profilnya yang selalu muncul dengan update annya, kadang ia upload fhoto-fhotonya. Aku tersenyum, dan “Cantiknya”. Sejuk !!! seolah tandus yang di hujani hujan, Sejuk!. Aku tersenyum, senang, dan penuh harapan. Bayangku melayang lebih jauh dari langkahku sendiri. Cepat !

Aku seolah penasaran jika tidak menyapanya. Kadang aku sering melontar pesan untuk ingatkan ia baik melalui sms atau BBM. Hingga pernah suatu saat, aku mencoba untuk menyapa sekalian ada yang ingin aku tanyakan padanya. Mungkin karena aku sering memberi masukan dan kritik. Akhirnya seolah bayangku ini adalah sesosok manusia yang hanya penuh dengan kritik saja.

Namun ternyata memang benar, cinta itu adalah memberi, memperhatikan, menjaga, menumbuhkan, dan mengembangkan orang yang ia cintai dengan tidak menodai dan memenjarai. Ia tak mau jika orang yang di cintainya terjatuh, terjungkir, salah arah, terjerambab.

Aku mencoba untuk tetap menjaga prinsipku, bahwa aku mencintai dia, maka aku harus berusaha memperbaiki diri tanpa mengotori dengan tingkah yang hanya menodai cinta. Karena tidak sedikit orang yang rela mencicip cintanya sebelum ia halal baginya, pacaran kah, atau jalan kah, berbalas telpon, dan lain hal sebagainya. Dengan dalih bahwa takut kehilangan.

Kemudian aku berfikir saat itu, aku meminta ia meng unfollow Twitter ku, menghapus semua pesan yang pernah aku kirimkan, aku blok dari pertemanan Fb, aku coba hapus kontaknya di HP. Namun ternyata aku belum terlalu kuat untuk hal itu, aku kembali follow, add, dan simpan nomornya kembali.

Bisik-bisik dan perasaan itu semakin kuat, dengan tingkah ia yang semakin berkembang. Aku senang ia berkembang, namun dalam waktu yang sama aku sedih. Muncul dibenakku bahwa sepertinya sepanjang perkembanga ia, sepertinya ia menyukai orang lain.

Pikiran itu muncul saat seringnya aku melihat mention ia kepada salah satu orang yang aku kira khusus, orang itu pun aku kira adalah orang berkualitas dikampusnya, memiliki hafalan Qur’an, orang kaya, organisatoris. Inilah sosok yang sempurna bagi kaum aktivis “kayaknya”.

Yah, itu yang membuat aku berfikir bahwa ia menyukai orang lain. Aku hanya seonggok manusia yang mengharapkan cinta dari seorang anak manusia. Seorang gadis yang aku temui diwaktu aku akan menghadapi semester akhir perkuliahan.

Waktuku kadang tersita oleh sikapku yang lemah. Kini akupun memutuskan kembali, aku lakukan tindakan yang pernah aku ulangin. Aku mencoba menghindarkan diri darinya, menghapus kontak yang dapat terhubung langsung dengannya. Yah, aku lakukan itu karena aku ingin menjaga cinta itu. Aku khawatir banyak luka-luka kecil yang membesar dan menganga. Mengotori hati dan kesuciannya. Kasih, ! Izinkan aku mengatakan “inilah caraku mencintaimu”.

Namun satu hal yang aku sadari, jika cinta adalah seni memperhatikan, memberi, mengembangkan, menumbuhkan orang yang ia cintai, maka selama orang itu tumbuh berkembang, itu sudah mewakili seperangkat pribadi yang berbalut cinta. Inilah cinta jiwa, meskipun raga tak sama dicinta, mengepakan sayap sebelah saja, bertepuk tangan nan tak berbalas. Namun cintanya sampai pada orang yang ia cintai. Tak harus dimiliki, namun jiwa membersamai. Aku kalah dalam pertarungan nyata, namun aku menang dalam memberikan cinta. Cinta jiwa, yang lahir dari kesucian rasa untuk sang kekasih. Cukup aku dan sang khaliq yang mengetahui, bahwa aku teramat cinta.

Layaknya Umar bin abdul ajiz yang menyukai seorang gadis. Hingga istrinya sadar bahwa suaminya sedang kalut. Saat itu pun sang istri membawakan gadis itu kehadapan umar. Dalam waktu yang sama, ternyata umar menolak gadis itu. Ia memang menginginkanya, namun misi hidupnya bukan untuk itu. Ada beban lain yang harus ia pikirkan. Lebih dari sekedar mengagumi dan mencintai seorang gadis. Itu adalah “ummat”.

Gadis itu pun bertanya pada umar “bukan kah engkau mencintaiku? Menginginkan aku sebelumnya?, namun kenapa sekarang kau menolakku, kemana cinta itu?”.

Sepenuh cinta umar membalas rintihan sang gadis “cinta itu bukan hilang, namun justru semakin dalam, semoga kita dipertemukan di syurgaNya kelak”. Sang gadis pun dinikahkan dengan pemuda lain”.
***
Semoga Allah merahmati beliau. Menjadikan malu sebagai kesadaran yang bersemayam. Ada salah yang terbenarkan, ada khilaf yang tersadarkan. Ana uhibukum Fillah. jika memang sudah siap, lebih baik datang saja langsung untuk mengkhitbahnya. Namun jika memang belum siap, maka langkah terbaik adalah bersabar dan terus membenahi diri. laa tahzan, tak usah risau karena sejatinya jodoh pasti bertemu (he).

Disinilah cinta bekerja. Ia bukan hanya sebatas keinginan belaka. Ia kalahkan hasratnya, namun ia menangkan cinta-Nya.

Memang benar, cinta tak harus memiliki. Jika cinta itu mengalir pada arus hasrat semata, maka ia hanya akan selesai hingga ia miliki sang kekasih dipelukannya. Saat cinta hanya sebatas kagum saja, maka ia akan pudar saat objeknya hilang dan tak ada dilingkungannya. Namun saat cinta jiwa mengalir deras, maka ia akan berupaya untuk memberikan, mengembangkan, menumbuhkan, memperhatikan agar sang kekasih menjadi lebih baik dan bersama menuju menara cahaya dari cintaNya. Bersama bukan hanya sebatas bersama, namun bersama untuk mengemban amanah yang besar, amanah yang ditolak oleh langit, bumi, dan gunung. Namun amanah ini manusia yang dhaif yang terima.

“Sekalipun aku tak temui ia didunia, maka kita reuni di syurgaNya dengan sepenuh cinta. Ini bukan sekedar aku dengan kamu, atau kamu dengan dia, namun ini antara aku dan mereka (umat)”. Wallahua'lam

2 komentar... Silahkan dibaca atau Beri komentar

  1. alhamdulilah, jazakillah.
    terimaksih masukannya, ditunggu masukan lainnya :)

    ReplyDelete

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
Powered by Blogger.

Sidebar Ads

x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator